Jan
09

Aku Andi seorang anak remaja mencari jati diri dan mencari sebuah makna illahi, aku hidup dipemukiman sederhana dikawasan Jakarta. Aku hidup disana bersama 2 orang adikku, ibu dan ayahku. sekarang aku cuti dari dunia pendidikan karena ayahku belum mampu untuk melanjutkanku ke perguruan tinggi. Selama aku cuti dari dunia pendidikan aku membantu ayahku menjual pakaian dan ikut juga meringankan beban ibuku didapur. Aku juga seorang muadzin di mushola dekat rumahku. Kadang aku berfikir adakah keadilan dinegaraku. Aku dehidrasi keadilan orang kecil terjerat hokum orang besar memegang tali hokum. Aku berniat menaikan haji orang tuaku yang sudah tua. Aku Cuma ingin melihat raut bahagia dimukanya. Aku Cuma ingin melengkapi puzzle dalam rukun islam yang belum lengkap dan sempurna. Aku pun bertanya pada ibuku “Apakah ibu ingin ber makrifat lebih dekat dengan Allah. SWT?” ibu berkata “ibu selalu ingin dekat dengan Allah melebihi kedekatan ibu dengan diri ibu sendiri. “Aku bangga mempunyai ibu yang kompeten terhadap agamanya itu yang kurasa dalam hati kecilku. Lalu aku berkata “Aku sebagai anak tidak pernah buat ibu bangga buat ibu tersenyum melihat yang kulakukan. Aku akan mendekatkan ibu dengan Allah SWT dengan cara berhaji agar ibu bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki tanpa terkontaminasi fananya dunia ini. Aku akan berusaha menaikkan ibu haji dengan daya upayaku nanti. Ibu tersenyum kecil sambil berkata “Aku bangga denganmu nak semoga cita-citamu terwujud. Itu sudah pukul 6 sore waktunya kamu mengumandangkan Adzan “Aku merasa hati ini punya motivasi lebih tinggi karena do’a ibu adalah ridhoNYA. Aku yakin aku pasti bisa. Dalam motivasi tinggi karena do’a ibu aku bergegas untuk mengumandangkan Adzan agar masyarakat sekitarku ingat illahi. Ingat bahwa ada kesejukan dihati dalam mushola ini yaitu sholat. Adzanku telah kukumandangkan sholat pun sudah selesai aku mengajak temanku yang bernama Anton untuk bercanda agar hati tidak selalu dalam satu intonasi yaitu serius. Aku bertanya sambil tersenyum kecil “Wayang apa yang paling pintar ton?” Anton pun berfikir sejenak lalu dia menjawab “Wayang yang sudah jadi professor. “Akupun tersenyum mendengar jawaban Anton. Akupun berkata “salah itu ton Jawabnya yang benar itu Smart …… itu kan ada Petrok, Bagong, Gareng,Smart”. “Anton pun melemparkan pertanyaan untukku. “ Kotak apa yang banyak ikannya?” aku mencoba menjawab “Kota dekat laut benar gak ton” Anton menjawab “Salah bung jawabannya Kendal itu kan ada. Dibawah Kendal-laman laut. Ha ha ha …satu sama” Next time giliranku “ Pekerjaan siapa yang selalu manja?” Anton berfikir sejenak lagi lalu Anton menjawab “ Anak bos yang kerja dikantornya” Aku pun tersenyum lalu aku menjawab “Polisi ton, itukan polisi manjaga keamanan” Anton berkata “oh iya ya” Anton tidak mau kalah lalu ia memberikan pertanyaan lagi “Diam apa yang gak enak?” aku berkata “diam bosen gak ada kerjaan” Anton menjawab sambil tertawa lebar “salah jawabannya diam-uk masa pasti gak enak banget kan”. Di dalam candaku datang Pak.Roni dia adalah orang yang paling kaya dikampungku dia bertanya padaku “Ndi aku dengar adzanmu tadi merdu sekali lho Ndi” Dalam hatiku senang, namun itu membikin tinggi hati bila aku tidak intropeksi diri ini. Semua itu kehendaknya lalu aku berkata “Alhamdullilah aku masih dikasih suara ini oleh Allah SWT” Pak Roni berkata lagi “Ndi aku besok mau naik haji kalau adzanmu bisa terdengar di Mekah nanti. Kamu dan seluruh keluargamu akan kunaikkan haji itu sumpahku. Aku bertanya dalam hati itu janji atau imajinasi orang kaya ini. “aku berkata kepada pak Roni” itu memang tidak dapat di kalkulasi tidak bisa diterima rasio ini tapi aku yakin Allah member jalan hambanya yang berdoa denganNya. Dan aku berdoa agar itu bisa jadi realisasi bukan gurauan fiktif dan bukan sebuah janji yang efektif”. Pak Roni berkata dengan wajah serius setelah mendengar kata-kataku “Ya ndi pasti janjiku akan kutepati bila aku bisa menyaksikan semua itu” Isya’ pun telah datang aku mengumandangkan adzan lagi. Setelah solat isya’ aku bergegas pulang untuk istirahat agar lelah ini terdegradasi dan menjadi energy baru yang membakar motivasi hati ini. Aku tidur setelah itu dan aku bangun malam untuk sholat tahajjut untuk memanjatkan hajat ini agar dikabulkan lilahirobbi. Dalam sholat malamku aku berdo’a “Ya Allah tolong jadikan bapak dan ibuku berhaji agar sempurna islamnya dan berkahilah keluarga kami ……” setelah itu aku mengambil Al-Qur’an untuk kubaca dan kubiaskan dalam hidup ini agar terwujud refleksi Al-Qur’an dalam hidupku ini. Pagi datang aku bergegas ke mushola untuk adzan agar masyarakat disekitarku terbangun dalam istirahatnya, dalam dunia yang penuh ketenangan. Setelah subuh aku kerumah Pak roni buntuk mendo’akan dan member selamat untuk akan naik hajinya. Aku bertemu pak Roni dan berkata “ Pak Roni semoga menjadi haji yang Mabrur bukan menjadi haji yang takabur yang bangga akan hajinya. Dan selalu dalam lindungannya “Pak Roni menjawab sambil menepuk pundakku “ Ya Amin ndi trima kasih kamu telah mendoa’akanku” aku menjawab “kembali pak” satu minggu berlalu setelah pak Roni menunaikan ibadah haji. Aku merenung apakah cita-citaku untuk menyempurnakan islam orangtuaku dengan berhaji bisa berhasil. Ah….aku dihinggapi motivasi regressive aku kalut, bingung, bimbang dan terjebak dalam labirin obsesi. Dalam kekalutanku aku dipanggil ibuku “ini waktunya adzan sana adzan jangan telat”. Aku menjawab dalam lemahku dan kebingunganku “Ya bu.! aku segera adzan “diwaktu yang lain keluarga Pak Roni sedang telepon Pak Roni yang di Mekah untuk melepas rindu. Aku pun adzan. Disisi lainj keluarga Pak Roni berbincang-bincang dengan Pak Roni yang di Mekah ia telepon. Pak Roni di Mekah tidak sengaja mendengar suara adzanku lewat hpnya karena rumah Pak Roni dekat mushola sehingga suara adzanku tidak sengaja masuk ke suara dalam telepon keluarga Pak Roni. Pak Roni di Mekah berkata “Lho kok ngak jelas suaranya lho malah kedengaran adzan si Andi …. Subhannallah aku pernah berjanji kepada Andi bila adzannya sampai Mekah aku akan menunaikan haji Andi dan keluargannya”. Disisi lain aku selesai sholat hatiku sudah terbungkus ketenangan. Jiwaku bermutasi dari kekalutan menjadi optimis pasti Allah membukakan jalan bagi hambanya yang mempunyai niat baik Pak Roni Akhirnya pulang dari hajinya dia tidak kerumahnya dulu tapi pergi kerumahku untuk menepati janji. Dia dating dengan pakaian hijau telur bebek dan berkata “Ndi aku telah mendapatkan keajaiban aku dulu telah berjanji padamu bila adzanmu kedengaran di Mekah kamu akan kunaikkan haji dengan keluargamu dan itu terjadi”. Aku bengong sambil bertanya “Kok bisa Pak itu terjadi” Pak Roni menjawab dengan raut muka sumringah “keluargakukan telpon, suara keluargaku tidak kedengaran dengan jelas di hpku waktu di Mekah. Tapi malah suara adzanmu kedengaran di hpku di Mekah dengan jelas”. Aku berkata subhannallah ibu, bapakku dan adikku kita akan berhaji semua” semua senang dan bersyukur padaNya itulah kisah cerpen untuk yang mempunyai niat baik Allah SWT pasti akan membukakan pintu dimensinya untuk kita mencapai niat itu Amin.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Category: Tak Berkategori
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
2 Responses
  1. fay faizal says:

    assalamualaikum wr.wb
    I think this is a good work as an early start of your writing.
    best regards
    mr.faizal
    http://www.pakfaizal.web.id

    [Reply]

  2. vino says:

    kereenn, jadi terharuu… tetap berkarya yaa.. salam kenal…

    Wirawan Noviana :)

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>